
Oleh: Virly Irdinansyah Pahlevi (PK IMM Al-Baa’its)
Mengapa bulan Mei disebut bulan perlawanan yang penuh arti? Sejarah panjang ini sering terhapus oleh gegap gempita diskon belanja atau liburan singkat di awal Mei. Realita yang keras sampai hari ini masih terjadi, seperti ancaman kerja tak terbatas waktu, tak berbayar, hingga jebakan kontrak kerja eksploitatif.
Merujuk pada ratifikasi Konvensi ILO sejak puluhan tahun lalu hingga dinamika alot di forum LKS Tripartit Nasional, Hari Buruh jelas bukan sekadar memori usang. Jejak masa lalu inilah yang menjadi fondasi dasar hukum perburuhan modern yang masih kita perjuangkan. Memahami esensi dan akar pergerakan ini memberi kita pijakan legal untuk menuntut hak-hak normatif secara lebih cerdas di era digital. Kita bisa lebih tegas menolak praktik kerja tidak manusiawi ketika tahu besarnya harga yang sudah dibayar oleh para pendahulu.
Kembali pada sejarah, Hari Buruh atau yang juga dikenal dengan May Day, bermula di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 ketika kelompok pekerja mulai memperjuangkan hak-hak mereka di tempat kerja, seperti waktu kerja yang lebih pendek, gaji yang lebih baik, dan kondisi kerja yang lebih aman. Pada tanggal 1 Mei 1886, terjadi aksi unjuk rasa yang melibatkan ribuan pekerja di Chicago, Amerika Serikat, yang meminta hak-hak mereka di tempat kerja. Namun, aksi tersebut berakhir dengan kekerasan dan kematian beberapa orang.
Peristiwa ini menjadi pemicu bagi gerakan buruh internasional untuk memperingati perjuangan para pekerja dan memperjuangkan hak-hak mereka di tempat kerja. Pada tahun 1889, Kongres Buruh Internasional yang diselenggarakan di Paris, Prancis, memutuskan untuk menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional atau May Day. Sejak saat itu, hari tersebut menjadi simbol momen penting bagi para pekerja di seluruh dunia untuk menyuarakan hak-hak mereka, termasuk di Indonesia. Namun, peringatan May Day di Indonesia mengalami perubahan setelah terjadinya peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965, di mana pemerintah Orde Baru melarang kegiatan buruh yang dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan nasional. Sejak saat itu, tiap tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Nasional.
Kondisi kerja saat itu sangat memprihatinkan tanpa adanya regulasi yang jelas. Hal tersebut membuat Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menyampaikan 11 tuntutan kepada Presiden Prabowo pada perayaan May Day di Monas tanggal 1 Mei 2026 kemarin. Salah satunya adalah penghapusan tarif ojol 10 persen. Akan tetapi, Presiden Prabowo menyetujui bahkan di bawah 10%, yaitu menjadi 8%. Hal tersebut semata-mata demi kepentingan rakyat. Hal tersebut menjadi angin segar bagi para ojek online di seluruh tanah air. Pasalnya, tarif aplikator sebelumnya, yaitu 20%, menjadi beban berat bagi para ojek online. Namun, di sisi lain, keputusan perpres ini benar-benar diharapkan detail dan menutup celah manipulasi aplikator, karena perihal tersebut dikhawatirkan munculnya program-program baru dalam aplikator pasca penurunan potongan 8%, ujar mitra Gojek, Andrianto (33).
Sehari setelahnya, 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Dua momentum ini sering dipisahkan secara makna, padahal sejatinya saling terhubung erat: perjuangan tanpa pendidikan akan mudah dipatahkan, dan pendidikan tanpa keberpihakan sosial akan kehilangan arah. Bagi serikat pekerja, pendidikan bukan pelengkap, melainkan fondasi.
Sayangnya, realitas menunjukkan bahwa pendidikan bagi pekerja masih sering dianggap tidak penting. Momentum setelah May Day seharusnya tidak berhenti pada aksi dan orasi. Sebagaimana tercantum pada UUD dan Pancasila, setiap warga negara harus dijamin hak kesejahteraan maupun pendidikannya. Perjuangan tersebut harus tetap dilanjutkan dengan proses yang lebih mendasar: pendidikan. Jika May Day adalah simbol perlawanan, maka Hari Pendidikan Nasional adalah jalan untuk memastikan perlawanan itu tidak sia-sia. Sebab, perjuangan yang terdidik bukan hanya akan bertahan, tetapi juga akan menang.
Literatur:
https://jurnalitpln.id/menguak-sejarah-berdarah-kenapa-hari-buruh-disebut-may-day-di-tahun-2026/
https://jurnalitpln.id/menguak-sejarah-berdarah-kenapa-hari-buruh-disebut-may-day-di-tahun-2026/
https://spkep-spsi.org/dari-may-day-ke-hari-pendidikan-nasional-membangun-kesadaran-menguatkan-perjuangan/](https://spkep-spsi.org/dari-may-day-ke-hari-pendidikan-nasional-membangun-kesadaran-menguatkan-perjuangan/
https://www.bbc.com/indonesia/dunia-43962083
https://www.bbc.com/indonesia/dunia-43962083
https://travel.kompas.com/read/2026/05/01/180600627/hari-buruh-1-mei-ini-sejarah-lengkapnya
https://travel.kompas.com/read/2026/05/01/180600627/hari-buruh-1-mei-ini-sejarah-lengkapnya
https://www.tempo.co/hukum/11-tuntutan-buruh-kspi-dalam-perayaan-may-day-2132997](https://www.tempo.co/hukum/11-tuntutan-buruh-kspi-dalam-perayaan-may-day-2132997
https://news.detik.com/berita/d-8471305/prabowo-minta-potongan-aplikator-dipangkas-jadi-8-ini-kata-ojol](https://news.detik.com/berita/d-8471305/prabowo-minta-potongan-aplikator-dipangkas-jadi-8-ini-kata-ojol
